DARI SUBAK KE PANGGUNG INTERNASIONAL, KIR HARAPAN RAIH 3RD PLACE PADA WOSDEP 2026 KATEGORI POSTER PRESENTATION
Sebuah penelitian tentang saluran irigasi Subak membawa tim KIR Harapan, Kelompok Ilmiah Remaja SMAS Kristen Harapan, Ni Nyoman Laura Pricilla Christie dan Ayu Putu Vreya Ginanti Maheswari, ke panggung kompetisi riset internasional. Dalam ajang World Olympiad of Sustainable Development and Environmental Protection (WOSDEP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Young Scientist (CYS) pada 3–7 September 2026, keduanya berhasil meraih 3rd Place pada kategori Poster Presentation, sementara itu, Vreya juga mencatatkan Excellent Result pada kategori General Knowledge Test.
Mengusung penelitian berjudul “Dragonfly Corridor: Exploring the Potential of Subak Irrigation Channels as Nature-Based Corridors for Freshwater Biodiversity”, Laura dan Vreya membawa kekayaan lingkungan lokal Bali ke forum yang mempertemukan peneliti muda dari berbagai daerah dan negara. Penelitian tersebut berangkat dari pengamatan terhadap saluran irigasi Subak dan potensinya sebagai koridor alami bagi keanekaragaman hayati air tawar.
WOSDEP 2026 mempertemukan kemampuan peserta dalam tiga kategori, yakni General Knowledge Test, Oral Presentation, dan Poster Presentation. Untuk Laura dan Vreya, ajang ini menjadi pengalaman pertama mengikuti kompetisi dengan skala internasional. Bukan hanya soal tampil di hadapan juri, keduanya harus memahami penelitian secara utuh, menguasai isu pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan, sekaligus mampu menyampaikan gagasan dengan percaya diri.
Persiapan pun dilakukan sebelum hari perlombaan. Bersama pembina KIR Harapan, Ibu Ni Ketut Yuli Santosa, S.Si., M.Ling., Laura dan Vreya melakukan survei langsung ke Subak Umapalak, Denpasar. Data dan temuan lapangan kemudian menjadi bagian penting dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang mereka bawa ke WOSDEP.
Persiapan tidak berhenti pada penulisan penelitian. Keduanya juga berlatih menghadapi berbagai kemungkinan pertanyaan, memperdalam materi mengenai sustainable development dan environmental protection, serta mengikuti pembinaan tim Indonesia yang diselenggarakan CYS secara daring melalui Zoom. Di sekolah, latihan presentasi dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler KIR agar mereka semakin terbiasa menyampaikan gagasan penelitian secara runtut.
Ada cerita menarik di balik keberhasilan meraih penghargaan pada kategori poster. Sehari sebelum perlombaan, tim sempat menyadari bahwa mereka keliru memahami guideline sehingga poster belum disiapkan. Sekitar pukul 18.00 Wita pada H-1, tim mendapat pengingat untuk segera menyelesaikan poster. Waktu yang tersisa pun dimanfaatkan sebaik mungkin. Poster akhirnya selesai dan dapat dipresentasikan pada hari perlombaan.
Pada 4 September, Laura dan Vreya mengikuti General Knowledge Test dan Poster Presentation. Sehari berikutnya, 5 September, mereka melanjutkan perjuangan melalui kategori Oral Presentation. Meski belum memperoleh penghargaan pada kategori presentasi lisan, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pertama mereka di kompetisi internasional.
Bagi Laura dan Vreya, pencapaian ini tidak hanya berhenti pada angka atau penghargaan. Mereka juga mendapatkan kesempatan melihat bagaimana peneliti muda lain mengembangkan gagasan dan menyajikan penelitian mereka. Beragam judul penelitian dan presentasi yang ditampilkan peserta lain menjadi pengalaman tersendiri sekaligus bahan refleksi untuk pengembangan riset berikutnya.
Bagi KIR Harapan, pengalaman Laura dan Vreya merupakan proses yang berkelanjutan dan saling mendukung, mulai dari turun ke lapangan, menyusun karya ilmiah, berlatih, memperbaiki kesalahan, hingga berani tampil di forum internasional. Proses ini dijalani sebelum akhirnya mendapatkan capaian akhir. Dari Subak Umapalak, kearifan lokal Bali, gagasan itu akhirnya sampai ke panggung WOSDEP.



