EKSPERIMEN STEM ES KRIM PUTAR: CARA MANIS MURID SMAS KRISTEN HARAPAN MEMPRAKTIKKAN SIFAT KOLIGATIF
Siapa sangka, di balik kelembutan es krim cokelat dengan taburan cookies, terdapat konsep kimia yang sedang bekerja? Suasana berbeda nampak di ruang kelas XI MIPA 1 SMAS Kristen Harapan pada Selasa, 5 Mei 2026. Tumpukan buku yang biasanya menghiasi meja murid, berubah menjadi tawa riuh dan kepulan uap dingin yang berasal dari kaleng-kaleng.
Di bawah bimbingan guru Kimia, Ibu Ni Ketut Yuli Santosa, S.Si., M.Ling., para murid sedang menyelami topik Sifat Koligatif Larutan melalui pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Tantangannya sederhana namun mendebarkan: membuat es krim tanpa bantuan mesin pendingin sama sekali.
Perjalanan eksperimen ini dimulai pada Kamis, 30 April 2026. Sebelum tangan mereka menyentuh es batu, Ibu Yuli mengajak murid membedah konsep dasar. Bukan sekadar teori, murid mampu mendefinisikan pendekatan STEM dalam proyek ini, dengan mendiskusikannya dengan kelompok mereka. Mereka memahami bahwa Science ada pada reaksi kimia, Technology pada alat putar sederhana, Engineering pada rancang bangun wadah, dan Mathematics pada perhitungan rasio bahan.
Pada hari pembuatan, Selasa, 5 Mei 2026, murid melakukan proses pengukuran bahan dan hasilnya dengan tepat. Setiap kelompok sibuk menimbang bobot es batu dan garam yang digunakan, mengukur volume susu awal, hingga nantinya menghitung volume es krim yang dihasilkan.
Meja dan kursi kelas ditata dengan rapi. Setiap anggota tim bergerak lincah sesuai peran. Momentum paling seru terjadi saat kaleng diletakkan di tengah waskom berisi es dan garam, lalu mulai diputar dengan tangan. Wajah-wajah penuh harap terpancar jelas. Mereka sedang melakukan manipulasi suhu secara manual. Mereka membayangkan sebentar lagi akan menikmati es krim buatan sendiri. Apalagi mereka sudah menyiapkan berbagai topping seperti kental manis cokelat, cokelat batang, sampai cookies kesukaan mereka.
Waktu pembekuan ternyata bervariasi. Ada kelompok yang sukses dalam 8 menit, namun ada yang harus berjuang hingga 20 menit tergantung pada volume susu yang dimasukkan dalam kaleng, serta volume kaleng yang digunakan.
Sains tidak selalu berjalan mulus. Ada momen lucu ketika dua kelompok mendapati es krim mereka terasa asin yang diprediksi akibat kebocoran kaleng. Namun, dengan semangat pantang menyerah, mereka mengevaluasi teknis pengerjaan, mengulang prosesnya, dan akhirnya berhasil menciptakan es krim yang manis.
Pagi itu, bukan hanya sekadar membuat es krim dan menikmatinya, namun para murid mampu menarik kesimpulan hasil percobaan mereka yaitu: (1) eksperimen ini membuktikan bahwa penambahan garam pada es batu memicu penurunan titik beku larutan. Hal ini memungkinkan es batu mencapai suhu di bawah 0°C, yang cukup dingin untuk membekukan adonan susu; dan (2) murid menemukan fakta menarik bahwa volume es krim yang dihasilkan ternyata lebih banyak dibandingkan volume susu cair yang dituang di awal. Hal ini terjadi karena adanya udara yang terperangkap (overrun) selama proses pemutaran kaleng secara konsisten.
Melihat es krim ditata dengan topping cantik menjadi puncak kebahagiaan hari itu. Di kelas XI MIPA 1, Kimia bukan lagi soal hafalan di atas kertas, melainkan sebuah pengalaman sensorik yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa dirasakan, diukur, dan tentu saja, dinikmati kelezatannya.





