post-image

Siswa SMAS Kristen Harapan Hidupkan Spirit Budaya dalam Bulan Bahasa Bali 2026

Denpasar – Dalam upaya menjaga eksistensi budaya lokal di tengah gempuran modernisasi, SMAS Kristen Harapan sukses menyelenggarakan kegiatan Bulan Bahasa Bali 2026 pada Kamis, 26 Februari 2026. Mengusung tema “Atma Kerthi, Udiana Purnaning Jiwa”, kegiatan ini bertransformasi menjadi taman spiritual bagi para siswa untuk memuliakan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai pembentuk karakter yang luhur. Sejak pagi, lingkungan sekolah tampak asri dan kental dengan nuansa tradisi. Seluruh warga sekolah tampil anggun mengenakan busana adat Bali, menciptakan atmosfer kebersamaan yang penuh khidmat namun tetap meriah.

Kegiatan tahun ini menyuguhkan berbagai cabang lomba yang menantang kreativitas dan kemampuan bahasa para siswa, di antaranya:

• Nyurat Lontar : Menjadi ajang ketelitian siswa dalam menggoreskan aksara di atas daun lontar.

• Baligrafi : Memperlihatkan sisi artistik aksara Bali dalam bentuk seni visual yang modern.

• Dharma Wacana : Wadah bagi siswa untuk menyampaikan pesan moral dan nilai kehidupan dengan bahasa yang santun.

• Karaoke Lagu Pop Bali : Memberikan ruang bagi talenta musik lokal untuk bersinar.

Kemeriahan acara ini tak lepas dari perjuangan luar biasa para peserta. Syifa (X9), juara 2 lomba Pop Bali, membagikan kisah inspiratifnya saat harus menghadapi pergantian rekan duet dan lagu secara mendadak. “Tantangannya berat karena ini pertama kali aku nyanyi pakai Bahasa Bali. Persiapan Cuma 3 hari, bahkan sempat sewa kebaya jauh-jauh sambil hujan-hujanan. Tapi syukur, usaha kami tidak sia-sia,” ungkap Syifa.

Hal senada disampaikan oleh Bening (X9), peserta Nyurat Lontar. Meski hanya memiliki waktu latihan dua hari, ia merasa bangga bisa mewakili kelasnya. Ia juga memberikan saran konstruktif untuk pelaksanaan tahun depan. “Rasanya senang sekali, tapi mungkin tahun depan lomba Nyurat Lontar lebih nyaman jika dilakukan dengan duduk di lantai agar lebih meresapi nuansa tradisinya,” tuturnya. Sementara itu, Dika (X3) yang mengikuti lomba Baligrafi mengakui ketatnya persaingan tahun ini. “Banyak lawan yang sangat kreatif, tapi ini jadi cara kami anak muda untuk melatih dan mengingat kembali budaya sendiri agar tidak punah,” jelasnya.

Dukungan penuh datang dari tenaga pendidik. Ibu Eka, salah satu guru Bahasa Bali di SMA Kristen Harapan, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme dan effort luar biasa dari para siswa. “Saya sangat bangga melihat anak-anak tidak malu menggunakan Bahasa Bali. Pesan saya, teruslah cintai aksara dan sastra kita. Jangan ragu untuk tampil dan mencoba,” ujar Ibu Eka. Beliau juga berharap agar di tahun-tahun mendatang, variasi lomba bisa ditambah, seperti lomba menghias kelas bernuansa Bali atau lomba tari Bali, agar acara semakin semarak.

Kegiatan Bulan Bahasa Bali 2026 di SMAS Kristen Harapan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bukti nyata bahwa generasi muda tetap memiliki akar budaya yang kuat meski hidup di era modern.