DARI LAMPU OTOMATIS KE KALKULATOR ENERGI: UBAH IDE TEKNOLOGI MENJADI KONSEP NYATA
Bagaimana jika penghematan listrik tidak hanya dibicarakan, tetapi juga bisa dihitung dan dibandingkan dengan pengeluaran sehari-hari? Pertanyaan inilah yang dijawab murid kelas XII SMAS Kristen Harapan melalui pembelajaran Informatika pada 22 dan 25 September 2026. Berbekal pengetahuan tentang lampu otomatis berbasis sensor cahaya, mereka mengembangkan web atau aplikasi sederhana untuk menghitung potensi penghematan energi.
Pembelajaran yang dibimbing oleh guru Informatika, Ibu Ni Ketut Yuli Santosa, S.Si., M.Ling., ini diawali dengan praktik simulasi rangkaian lampu terang-gelap menggunakan platform Wokwi. Murid mempelajari cara kerja sensor LDR (Light Dependent Resistor) yang dapat mendeteksi intensitas cahaya, kemudian menerapkannya dalam sistem otomatis: lampu menyala ketika lingkungan gelap dan mati ketika kondisi terang.
Setelah memahami prinsip kerjanya, murid melangkah lebih jauh. Mereka ditantang membuat kalkulator energi yang dapat memperkirakan konsumsi listrik dan potensi penghematan jika sistem lampu otomatis diterapkan. Menariknya, murid diberi kebebasan memilih aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang paling sesuai dengan kemampuan dan kebiasaan mereka. Tidak ada satu aplikasi yang diwajibkan. Fokusnya adalah bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan solusi yang berguna.
Hasilnya melampaui perkiraan awal. Sejumlah web yang dikembangkan tidak hanya menampilkan angka penghematan energi, tetapi juga menghubungkannya dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Potensi penghematan listrik, misalnya, dibandingkan dengan biaya menikmati kopi di kafe atau membeli nasi Padang. Perbandingan semacam ini membuat angka yang semula terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Murid dapat melihat bahwa keputusan sederhana dalam penggunaan listrik memiliki nilai yang bisa dihitung.
Dalam refleksinya, salah seorang murid mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut mengubah cara pandangnya terhadap penggunaan energi. Ia menyadari bahwa penghematan listrik bukan sekadar mengurangi pemakaian, melainkan menggunakan energi secara bijak sesuai kebutuhan. Menurutnya, kalkulator yang dibuat membantu menghubungkan lama penggunaan lampu, konsumsi listrik, dan potensi penghematan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.
Murid juga mampu menilai hasil karyanya secara kritis. Mereka melihat bahwa kalkulator yang dikembangkan masih memiliki keterbatasan, antara lain pilihan fitur yang belum banyak, ketergantungan pada ketepatan data masukan, serta perlunya pengembangan tampilan dan perbandingan penggunaan berbagai jenis lampu. Refleksi ini menjadi bagian penting dari pembelajaran: sebuah produk digital tidak harus langsung sempurna, tetapi perlu diuji, dievaluasi, dan diperbaiki.
Bagi Ibu Yuli, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi murid untuk menghubungkan konsep Informatika dengan persoalan nyata. Pemrograman tidak berhenti pada rangkaian elektronik atau baris kode, tetapi dapat digunakan untuk mengolah data, membuat perhitungan, dan menyampaikan informasi dengan cara yang lebih menarik. Penggunaan AI pun menjadi sarana untuk mengembangkan ide, sementara murid tetap perlu memahami konsep, memeriksa hasil, dan menilai apakah solusi yang dibuat benar-benar bermanfaat.
Pembelajaran ini memperlihatkan penerapan prinsip pembelajaran mendalam. Murid belajar secara berkesadaran ketika memahami alasan pentingnya efisiensi energi, secara bermakna ketika mengaitkan perhitungan dengan pengeluaran sehari-hari, dan secara menggembirakan ketika memiliki kebebasan berkreasi serta menghasilkan karya sesuai gagasan masing-masing.
Pada akhirnya, teknologi tidak selalu harus rumit untuk membawa perubahan. Sebuah sensor cahaya dan kalkulator energi sederhana dapat menjadi titik awal untuk memahami hubungan antara teknologi, kebiasaan manusia, dan kelestarian lingkungan. Dari ruang kelas SMAS Kristen Harapan, murid belajar bahwa inovasi bukan semata-mata tentang menciptakan sesuatu yang canggih, melainkan tentang menemukan cara yang lebih cerdas untuk menjawab kebutuhan sehari-hari.
Contoh hasil karya murid dapat diakses pada QR Code berikut ini.




